Your browser does not support JavaScript!

Lima Tantangan Transformasi Digital Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Kita semua pastinya pernah mengalami kesulitan ketika menggunakan layanan dokter dan rumah sakit. Mulai dari proses pendaftaran yang ribet, booking harus menggunakan telpon, waktu menunggu yang lama dan tidak pasti, proses pembayaran yang manual dan berbelit apalagi jika menggunakan asuransi. Dan itu semua hanya puncak dari gunung es permasalahan layanan kesehatan di Indonesia.

Banyak masalah mendasar di pelayanan kesehatan yang masih belum ada solusinya seperti akses terhadap data kesehatan pribadi (medical records) yang belum tersedia, proses rujukan antar dokter dan rumah sakit yang seringkali menyulitkan, dan juga proses klaim asuransi terutama BPJS yang saat ini sedang menjadi isu besar antara pihak pemerintah dan rumah sakit di Indonesia. 

Teknologi digital dapat menjadi solusi dari banyak permasalahan layanan kesehatan di atas. Namun industri kesehatan secara umum dan rumah sakit pada khususnya, masih lambat dalam melakukan transformasi digital.

Jika kita melihat ke industri lain misalnya pariwisata dan perhotelan, sejak 10 tahun yang lalu sudah menerapkan proses booking online yang kemudian menumbuh-suburkan Online Travel Agent (OTA). OTA seperti Booking.com,agoda, traveloka, & Tiket.com menawarkan berbagai kemudahan dalam melakukan booking dan pembayaran hotel secara digital. Selain itu, rating dan review terhadap layanan hotel seperti trip advisor yang mudah diakses secara online membantu kita dalam menentukan pilihan hotel terbaik dan memacu pengelola hotel untuk terus memperbaiki layanan dan fasilitasnya.

Kenapa hal yang sama sulit untuk dilakukan di industri kesehatan? Banyak hal yang menyebabkan implementasi teknologi digital terutama yang fokus untuk memperbaiki layanan terhadap pasien sulit untuk dilakukan di rumah sakit di Indonesia. Berikut adalah beberapa isu dan tantangannya:

1. Supply and Demand

Indonesia masih mengalami ketidak-seimbangan antara kebutuhan dan penyedia layanan kesehatan terutama di kota kecil dan daerah rural. Bahkan jika kita bandingkan antara jumlah tempat tidur yang tersedia di seluruh rumah sakit dan kebutuhan masyarakat yang terus meningkat, Indonesia berada di urutan negara dengan rasio yang rendah (0,8 per 1000) dibanding negara di ASEAN lainnya. Banyak pihak pengelola rumah sakit yang lebih fokus kepada ekspansi fasilitas dan masih melihat sebelah mata terhadap transformasi digital karena posisi tawar yang tinggi akibat kurangnya kompetisi. 

2. Fragmented Landscape

Dari lebih dari 2450 rumah sakit di seluruh Indonesia, sebagian besar dikelola secara independen dan belum mempunyai standarisasi dan akreditasi internasional. Group pengelola rumah sakit swasta terbesar saat ini adalah Siloam group yang diproyeksikan akan mempunyai 40 rumah sakit di ahir tahun 2018. Beberapa group rumah sakit swasta lainnya seperti Mitra Keluarga juga sedang melakukan ekspansi besar namun secara keseluruhan tidak mencapai 5% dari total jumlah rumah sakit di Indonesia. Hal ini menjadi tantangan bagi partner penyedia solusi/teknologi digital untuk dapat melakukan integrasi ke setiap rumah sakit satu-per-satu yang akan menimbulkan biaya dan waktu yang cukup besar.

3. Legacy IT Infrastructure

Saat ini semakin banyak rumah sakit di Indonesia yang sudah melakukan implementasi sistem IT Hospital Information System termasuk sentralisasi database medical records. Namun karena kurangnya standarisasi dokumentasi dan business process, implementasi sistem IT ini bekerja sendiri-sendiri (working in silos) dan kurang terintegrasi dengan sistem lainnya. Banyak juga rumah sakit yang terlanjur bergantung pada teknologi yang ketinggalan jaman (outdated) sehingga sulit diperbarui untuk memenuhi espektasi pasien yang ingin mengakses informasi secara cepat via mobile. Apalagi ketika sistem IT di rumah sakit dibangun oleh berbagai vendor yang berbeda sehingga tidak memiliki kontinuitas roadmap teknologi agar bisa terus dikembangkan ke depannya.

4. People & Culture

Seperti halnya di industri lain, tantangan terbesar dari transformasi digital adalah kultur organisasi dan birokrasi yang menghambat dilakukannya perubahan menuju tata kelola yg lebih baik. Salah satu kesulitan terbesar adalah proses edukasi dan implementasi yg membutuhkan komitmen dari top level sampai dengan staff. Ini membutuhkan strategi change management yg tepat dan secara berkala terus menerus dievaluasi. Dokter sebagai stakeholder yang terpenting di ekosistem digital rumah sakit terkadang kurang reseptif terhadap perubahan ini.

5. Government Regulations

Industri kesehatan adalah salah satu industri yang sangat bergantung terhadap regulasi pemerintah (highly regulated). Namun pemerintah butuh mengejar ketertinggalan dalam membuat produk hukum yang dapat memayungi inovasi di bidang teknologi kesehatan dan memberikan kepastian pada pelaku untuk dapat melindungi penggunaannya. Pada saat ini, untuk hal yang sangat dasar seperti tata kelola data medis pasien masih membutuhkan aturan main yang lebih detil sehingga lebih jelas sampai sejauh mana peran rumah sakit dan pemerintah dalam mengelola data medis pasien termasuk apa hak dan kewajiban dari pasien untuk dapat secara mudah meng-akses, unduh, menyimpan, dan mengirimkan pada pihak yang berkepentingan.

Lima hal di atas hanyalah sebagian dari tantangan transformasi digital di industri kesehatan Indonesia. Masih banyak conflicting interest antara stakeholder industri ini yang tidak berpihak kepada pasien.

Namun kami di Medigo Indonesia yakin bahwa sekaranglah momentum untuk bersama-sama memperbaiki layanan kesehatan di Indonesia melalui teknologi digital.

Kami percaya bahwa peluang yang sangat besar di industri ini dimulai dengan mengutamakan patient experience.

Anda pengelola rumah sakit?

Kami siap menjadi mitra teknologi rumah sakit Anda

Selengkapnya

Anda pengelola klinik?

Kami memiliki solusi mengelola klinik yang lebih baik

Selengkapnya