Your browser does not support JavaScript!

Peran FKTP Sebagai Ujung Tombak Pelayanan Kesehatan Selama Pandemi

Jaminan kesehatan nasional (JKN) telah mendisrupsi pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan diharapkan untuk tidak lagi terpusat di rumah sakit atau fasilitas kesehatan (faskes) tingkat lanjutan, namun dapat dilakukan secara bertahap dan maksimal melalui puskesmas, klinik, atau fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), sesuai tingkat kebutuhan medis. Berlandaskan 4 (empat) pilar managed care yaitu promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif, FKTP diharapkan menjadi kunci utama peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

Di era pandemi COVID-19, sebagai gerbang utama pasien untuk memperoleh pelayanan kesehatan, FKTP atau biasa disebut Faskes Primer memiliki kesempatan lebih luas dibandingkan dengan rumah sakit rujukan dalam melakukan pendekatan dengan masyarakat atau pasien, mulai dari melakukan himbauan akan pentingnya menjaga kebersihan dan jaga jarak guna pencegahan akan penyebaran virus, pemantauan gaya hidup pasien dengan penyakit kronis guna mengurangi tingkat penularan, hingga skrining kesehatan masyarakat yang berpotensi suspek, ODP (Orang Dalam Pemantauan), dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan) yang saat ini hanya dibebankan ke Rumah Sakit Rujukan, Rumah Sakit Darurat, ataupun Posko Kedaruratan Virus Corona.

Melihat padatnya Rumah Sakit Rujukan, bahkan Rumah Sakit Darurat, ini merupakan momen yang tepat bagi Faskes Primer untuk lebih berperan dalam melakukan penanganan pasien COVID-19 dengan kategori ODP dan PDP ringan. Seperti pernyataan Juru Bicara Tim Satgas Corona RS Unair dr Alfian Nur Rasyid SpP melalui detik.com, Kamis (26/3/2020)

"Di RS Unair ini ada lima pasien konfirm atau positif corona yang rawat jalan. Jadi tidak dirawat inap," Kemudian didukung oleh pernyataan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto dalam live streaming BNPB Indonesia, Selasa (24/3/2020),

"Tentunya untuk kasus yang dengan keluhan ringan atau tanpa keluhan, ini sebenarnya adalah hampir 80 persen dari kasus positif yang ada secara statistik berada dalam keluhan dalam posisi gejala yang ringan, atau ringan sampai sedang,"

Inisiatif klinik untuk berperan serta aktif dalam kondisi ini akan mudah terwujud dengan adanya dukungan pemerintah, salah satunya penyediaan APD, alat rapid test dan swab, yang saat ini sangat sulit didapat dan sangat mahal harganya jika hanya mengandalkan upaya masing-masing. Namun, dalam keterbatasan tersebut masih ada cara yang dapat dilakukan untuk tetap dapat melayani walaupun tanpa penggunaan APD, yaitu dengan memberikan layanan konsultasi tanpa kontak fisik dan pengiriman obat menggunakan ojek online, seperti yang dijalankan oleh Klinik Pintar. Selain itu, untuk melayani pasien yang membutuhkan pemantauan dan pengawasan, dapat dilakukan dengan kunjungan ke rumah.

...

Sumber:

 

Anda pengelola rumah sakit?

Kami siap menjadi mitra teknologi rumah sakit Anda

Selengkapnya

Anda pengelola klinik?

Kami memiliki solusi mengelola klinik yang lebih baik

Selengkapnya